(Ustadzah Nani Umm Fatih)
Ada pelajaran yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah, tetapi hanya bisa dipahami setelah kita terjun langsung dalam kehidupan.

Salah satunya adalah belajar memahami manusia.
Semakin banyak berinteraksi dengan masyarakat, semakin kita menyadari bahwa manusia tidak selalu dapat diukur dari apa yang tertulis di belakang namanya.
Ada yang memiliki gelar panjang, pendidikan tinggi, pengalaman luas, dan kemampuan berbicara yang baik. Namun, ketika tiba pada sebuah komitmen, ternyata tidak semua mampu berdiri teguh pada apa yang telah disepakati.
Sebaliknya, ada orang-orang sederhana yang mungkin tidak memiliki pendidikan setinggi mereka. Namun, ketika telah mengatakan insyaAllah, ia berusaha menepatinya. Ketika diberi amanah, ia menjaganya. Ketika memilih untuk berjalan bersama, ia berusaha bertahan meskipun perjalanan tidak selalu mudah.
Dari sinilah kita belajar sebuah perumpamaan sederhana:
Sebesar apa pun angka, ketika dikalikan dengan nol, hasilnya tetap nol.
Seseorang boleh memiliki ilmu yang tinggi, pengalaman yang banyak, kedudukan yang baik, dan kemampuan yang luar biasa. Namun, ketika semua itu tidak disertai komitmen dan amanah, kelebihan tersebut bisa kehilangan maknanya dalam sebuah perjuangan bersama.
Bukan karena ilmu tidak berharga.
Bukan pula karena pendidikan tidak penting.
Tetapi karena ilmu seharusnya melahirkan amanah, dan pendidikan seharusnya membentuk karakter.
Islam sangat memuliakan ilmu dan orang-orang yang berilmu. Namun, kemuliaan manusia di sisi Allah tidak ditentukan semata-mata oleh gelar, jabatan, atau strata sosial.
Allah Ta’ala berfirman:
«إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)»
Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan yang hakiki adalah ketakwaan.
Dan ketakwaan akan tercermin dalam cara seseorang memperlakukan amanah, menjaga kepercayaan, menghormati kesepakatan, serta bertanggung jawab ketika tidak ada yang mengawasi.
Komitmen yang sesungguhnya tidak selalu terlihat ketika semuanya berjalan mudah. Ia justru tampak ketika keadaan mulai tidak sesuai dengan keinginan.
Di situlah karakter seseorang berbicara.
Dalam membangun sebuah lembaga dan menjalankan sebuah perjuangan, kita akhirnya memahami bahwa kemampuan intelektual saja tidak cukup.
Kita membutuhkan orang yang mampu mengubah gagasan menjadi tindakan.
Orang yang tidak hanya pandai berbicara tentang visi, tetapi bersedia menempuh proses panjang untuk mewujudkannya.
Orang yang ketika berkata “siap”, berusaha untuk benar-benar siap.
Ketika berkata “bersedia”, tidak mudah mundur ketika menghadapi kesulitan.
Dan ketika telah menyepakati sesuatu, memahami bahwa kesepakatan bukan sekadar kata-kata, melainkan tanggung jawab yang harus dihormati.
Karena itu, pengalaman mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat kagum pada gelar.
Belajarlah melihat lebih dalam:
- Bagaimana seseorang memperlakukan amanah.
- Bagaimana ia menjaga komitmen.
- Bagaimana ia menghargai waktu orang lain.
- Bagaimana ia menghormati kesepakatan.
- Dan bagaimana ia bersikap ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kepentingan bersama.
Sebab karakter seseorang tidak selalu terlihat ketika ia mendapatkan apa yang diinginkan. Karakter justru diuji ketika ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dipilih.
Mungkin ada yang kecewa ketika kita mengambil sikap tegas.
Mungkin ada yang menganggap kita terlalu keras ketika mempertahankan aturan dan komitmen.
Namun, sebagai orang yang memikul amanah, kita perlu memahami bahwa membiarkan ketidakdisiplinan terus berlangsung hanya karena seseorang memiliki gelar atau kedudukan bukanlah bentuk kasih sayang.
Terkadang, ketegasan adalah bagian dari tanggung jawab.
Sebuah lembaga tidak akan tumbuh hanya karena diisi oleh orang-orang hebat. Ia akan bertumbuh ketika orang-orang di dalamnya memiliki kesamaan nilai, kesungguhan, dan kesediaan untuk berjalan bersama.
Karena itu, kita juga perlu belajar untuk tidak membenci orang-orang yang pernah mengecewakan.
Mungkin mereka bukan orang yang buruk.
Mungkin hanya saja, mereka bukan orang yang tepat untuk berjalan dalam perjalanan yang sama.
Dan itu tidak harus berakhir dengan permusuhan.
Ada orang yang cukup kita hormati dari kejauhan.
Ada yang cukup kita doakan.
Ada yang cukup kita jadikan pelajaran.
Dan ada pula yang harus kita lepaskan dari sebuah amanah, bukan karena kita membencinya, tetapi karena ada amanah yang lebih besar yang harus kita jaga.
Sebab dalam sebuah perjuangan, tidak semua orang yang pintar harus kita pertahankan, dan tidak semua orang yang sederhana boleh kita abaikan.
Kadang-kadang, orang yang selama ini kita anggap kecil justru menjadi orang yang paling besar nilainya ketika keadaan sulit.
Dan kadang-kadang, orang yang kita anggap besar ternyata menjadi “nol” ketika komitmen dan amanah tidak ada.
Maka, jika hari ini kita menjadi lebih berhati-hati dalam memilih orang untuk berjalan bersama, bukan berarti kita menjadi lebih buruk dalam menilai manusia.
Mungkin kita hanya sedang belajar menjadi lebih bijaksana.
Belajar bahwa gelar tidak menjamin integritas.
Bahwa kecerdasan tidak selalu melahirkan kebijaksanaan.
Bahwa pendidikan tinggi tidak otomatis melahirkan komitmen yang tinggi.
Dan bahwa amanah adalah kualitas yang tidak dapat dibeli dengan gelar apa pun.
Pada akhirnya, kita tidak ingin sibuk menghitung berapa banyak orang yang pernah mengecewakan kita.
Kita ingin belajar menghitung berapa banyak pelajaran yang Allah berikan melalui mereka.
Karena mungkin, melalui orang-orang yang “dikali nol” itulah Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih bijaksana dalam memilih siapa yang akan diajak berjalan bersama.
Maka, dalam membangun sebuah perjuangan:
Jangan hanya mencari orang yang berilmu.
Carilah orang yang amanah.
Jangan hanya mencari orang yang cerdas.
Carilah orang yang berkomitmen.
Jangan hanya mencari orang yang pandai berbicara.
Carilah orang yang mampu membuktikan.
Dan jangan hanya mencari orang yang hebat ketika berada di depan.
Carilah orang yang tetap teguh ketika perjalanan menjadi berat.
Sebab pada akhirnya, yang kita butuhkan dalam sebuah perjuangan bukan sekadar manusia-manusia hebat.
Kita membutuhkan manusia-manusia yang dapat dipercaya.
Karena sebesar apa pun angka yang kita miliki, jika komitmen dikalikan dengan nol, hasilnya tetap nol.
Namun, sekecil apa pun peran seseorang, jika ia hadir dengan keikhlasan, amanah, dan komitmen karena Allah, bisa jadi nilainya jauh lebih besar di sisi-Nya daripada apa yang mampu kita ukur dengan angka dan gelar.
Dan insyaAlloh inilah salah satu cara Allah mengajarkan kita untuk tidak salah dalam menilai manusia.
((Team Solider Group))









